Bab 1
"Kamu ditelepon lama banget angkatnya sih?! Mana uangnya? Kenapa belum ditransfer?! Kamu mau Bapakmu mati atau gimana?!"
*
Suasana ruang rapat lantai 25 itu hening, hanya terdengar dengungan rendah pendingin ruangan dan suara Pak Herman yang sedang mempresentasikan grafik penjualan kuartal pertama. Lastri duduk di ujung meja bundar yang terbuat dari kayu mahoni mengkilap, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan di atas permukaan ipad, mencoba mengikuti irama presentasi, namun pikirannya melayang entah ke mana.
Di luar jendela kaca raksasa, Jakarta tampak kelabu, tertutup selapis polusi tipis yang membuat gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti bayangan hantu. Sama seperti perasaannya hari ini. Kelabu.
"Jadi, dari data ini kita bisa melihat penurunan di sektor retail..." Pak Herman melanjutkan, pointernya menari-nari di layar proyektor.
Tiba-tiba, getaran keras dari ponselnya yang tergeletak di meja memecah konsentrasi Lastri. Ia melirik layar.
Nama "Ibu" berkedip-kedip di sana, seolah menuntut perhatian instan.
Jantung Lastri berdegup kencang, bukan karena kaget, tapi karena insting. Panggilan dari Ibu di jam kerja, apalagi seminggu sebelum Lebaran, tidak pernah membawa kabar baik. Tidak pernah sekadar bertanya "Kamu sudah makan, Nduk?" atau "Jakarta hujan tidak?".
Lastri buru-buru menekan tombol reject dan membalikkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Wajahnya memanas. Ia merasakan tatapan tajam Bu Siska, direktur HRD yang duduk di seberangnya. Tatapan yang seolah berkata, Profesional sedikit, Lastri.
"Maaf, Pak," gumam Lastri pelan, mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kaku.
Pak Herman mengangguk sekilas, lalu melanjutkan. Tapi konsentrasi Lastri sudah buyar sepenuhnya. Pikirannya kini berputar liar. Ada apa? Kenapa Ibu menelepon jam segini? Bapak sakit? Atau... ah, pasti soal uang. Pasti soal itu.
Sepuluh menit berlalu terasa seperti sepuluh tahun. Setiap detik, Lastri membayangkan ponselnya akan bergetar lagi. Dan benar saja. Getaran kedua datang, lebih panjang, lebih mendesak.
Lastri memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang tertahan di dada. Ia tidak mungkin mengangkatnya di sini. Tapi mengabaikan panggilan Ibu sama saja dengan menanam bom waktu yang akan meledak nanti malam.
Begitu rapat selesai dan orang-orang mulai membereskan berkas, Lastri adalah yang pertama keluar dari ruangan. Ia setengah berlari menuju toilet wanita di ujung lorong, satu-satunya tempat di kantor ini di mana ia bisa melepas topeng "Wanita Karir Sukses" barang sejenak.
Ia masuk ke salah satu bilik, mengunci pintu, dan bersandar di sana. Napasnya memburu. Di cermin wastafel tadi, ia melihat bayangannya sendiri—blazer rapi, rambut disanggul modern, makeup flawless. Sempurna. Tapi di balik itu, dompetnya menjerit.
Lastri membuka aplikasi mobile banking dengan tangan gemetar. Saldonya menyedihkan. Angka yang tertera di sana bahkan tidak cukup untuk menutupi tagihan kartu kredit yang jatuh tempo lusanya. Sisa gajian bulan lalu sudah habis untuk membayar cicilan apartemen (yang sebenarnya ia sewa, tapi ia bilang ke keluarga sudah beli), cicilan mobil (yang jarang ia pakai karena bensin mahal), dan tentu saja... transferan rutin ke kampung.
"Tarik napas, Lastri. Tarik napas," bisiknya pada diri sendiri.
Ponselnya bergetar lagi di tangan. Ibu menelepon untuk ketiga kalinya.
Kali ini, Lastri tidak punya alasan untuk menghindar. Ia menekan tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga yang mendadak berdenging.
"Halo, Bu?" suaranya terdengar serak, canggung.
"Halo! Ya ampun Lastri, kamu ini ditelepon dari tadi kok susah sekali sih? Ibu sampai was-was!" Suara Ibu melengking, menembus gendang telinga, tidak ada nada khawatir yang tulus, hanya kekesalan karena diabaikan.
"Maaf Bu, tadi Lastri lagi rapat. Ada bos besar. Nggak bisa angkat telepon sembarangan," Lastri mencoba memberi alasan logis, berharap Ibu mengerti dunia kerjanya yang tidak sefleksibel bertani di ladang.
"Alah, rapat terus perasaan. Kamu ini kerja apa dikerjain sih? Masa angkat telepon Ibu sendiri nggak boleh?" Nada suara Ibu terdengar meremehkan. Khas.
Lastri memijat pelipisnya. "Ada apa Bu? Bapak sehat?"
"Bapak sehat. Batuk-batuk dikit biasalah, rokoknya kenceng," jawab Ibu enteng. "Ini lho, Las. Ibu mau ngomongin soal Rian."
Dada Lastri langsung terasa sesak. Rian. Nama itu selalu menjadi pembuka untuk kalimat permintaan. "Kenapa Rian, Bu?"
"Adikmu itu lho, kasihan. Tadi dia cerita sama Ibu, katanya temen-temen kuliahnya sudah pada pesen tiket pesawat buat mudik. Rian bingung, dia belum beli. Katanya uang sakunya kemarin kepakai buat bayar iuran himpunan apalah itu."
Lastri diam. Ia tahu betul Rian tidak ikut himpunan apa-apa. Adiknya itu tipe mahasiswa kupu-kupu—kuliah pulang, kuliah pulang, atau lebih sering nongkrong di warkop.
"Terus?" tanya Lastri, pura-pura tidak tahu arah pembicaraan ini.
"Ya terus gimana? Masa adikmu nggak pulang? Lebaran kan setahun sekali, Las. Tetangga sebelah, si Tono, anaknya udah pulang bawa mobil. Masa Rian nggak pulang?"
"Lastri nggak bilang Rian nggak boleh pulang, Bu. Rian kan bisa naik kereta atau bus. Tiketnya masih ada kok, Lastri cek kemarin."
Hening sejenak di ujung sana. Lastri bisa membayangkan wajah Ibu yang berubah masam. Pastinya, bukankah selama ini memang selalu seperti itu?