Biar Gendut Jadi Rebutan

BAB 1: GAUN YANG TIDAK PAS

<p class="ql-align-justify">Hembusan napas Moza terdengar berat, tertahan di kerongkongan seolah ada batu besar yang menyumbat saluran udaranya. Ruang ganti VIP di butik "La Sposa" itu sebenarnya sangat mewah; dindingnya dilapisi <em>wallpaper</em> beludru krem, lantainya marmer dingin, dan suhu ruangannya disetel rendah oleh AC sentral. Namun, bagi Moza saat ini, ruangan itu terasa seperti oven. Keringat dingin sebesar biji jagung bermunculan di pelipis dan tengkuknya, membuat anak-anak rambutnya lepek dan menempel tidak nyaman di kulit.</p><p class="ql-align-justify">"Mbak, masih jauh ya?" tanya Moza pelan, suaranya bergetar menahan tangis dan rasa malu. Dia berdiri kaku di depan cermin setinggi plafon, kedua tangannya mencengkeram pinggiran gaun putih itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.</p><p class="ql-align-justify">Di belakangnya, Fitri, asisten butik senior yang sudah menangani puluhan pengantin, kini tampak kewalahan. Wajah Fitri sudah merah padam karena menahan napas dan tenaga. Jari-jarinya yang terbiasa lincah kini gemetar dan sakit karena mencengkeram kepala resleting gaun itu dengan sekuat tenaga. Namun, benda kecil dari logam itu bergeming. Diam di tempat. Terkunci mati tepat di bagian pinggang Moza, seolah mengejek usaha keras mereka berdua.</p><p class="ql-align-justify">"Sebentar ya, Kak Moza. Kita coba pelan-pelan lagi. Tahan napasnya dikit lagi ya, Kak. Rileks aja bahunya, jangan tegang. Satu... dua..."</p><p class="ql-align-justify">Moza memejamkan mata, menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paru bagian atas, lalu menahan perutnya sekuat tenaga. Dia menarik otot-otot perutnya ke dalam sampai rasanya organ dalamnya terhimpit dan paru-parunya mau meledak. Korset bawaan gaun itu sudah menekan rusuknya tanpa ampun.</p><p class="ql-align-justify">"Hhhmp!"</p><p class="ql-align-justify">Fitri menarik lagi, giginya terkatup rapat.</p><p class="ql-align-justify">"Gimana, Mbak Fitri? Udah gerak?" tanya Moza lagi, kali ini tanpa berani membuang napas, takut lingkar pinggangnya kembali melebar barang satu milimeter pun.</p><p class="ql-align-justify">Fitri akhirnya melepaskan tangannya, lalu menghela napas panjang tanda menyerah. Dia menggeleng pelan, wajahnya terlihat sangat tidak enak hati dan penuh rasa bersalah.</p><p class="ql-align-justify">"Macet, Kak. Beneran macet. Nggak mau naik sama sekali. Ini kayaknya relnya kejepit kain atau emang... <em>space</em>-nya udah habis."</p><p class="ql-align-justify">Moza akhirnya membuang napas panjang, bahunya merosot lemas karena kecewa. Dia membuka mata dan menatap pantulan dirinya di cermin. Cantik. Gaun itu cantik sekali, harusnya begitu. Model <em>mermaid</em> dengan ekor panjang menjuntai, dilapisi brokat Prancis asli dan taburan kristal Swarovski yang berkilauan ditimpa lampu <em>chandelier</em>. Harganya setara dengan mobil <em>city car</em> bekas.</p><p class="ql-align-justify">Moza jatuh cinta pada gaun ini sejak pandangan pertama di katalog. Dia membayangkan dirinya berjalan menuju altar, membuat Rian terpesona. Tapi kecantikan itu sia-sia sekarang. Di cermin, dia bukan melihat pengantin yang bahagia, tapi wanita yang terjebak dalam ambisinya sendiri. Bagian punggung gaun itu menganga lebar, memperlihatkan kulit punggung dan tali bra khususnya yang seharusnya tersembunyi. Daging di sekitar pinggangnya terlihat sedikit menyembul keluar dari celah resleting yang macet, sebuah pemandangan yang membuat perut Moza mulas.</p><p class="ql-align-justify">"Kok bisa macet sih, Mbak? Minggu lalu pas <em>fitting</em> kedua, ini muat lho. Lancar-lancar aja. Saya bahkan bisa napas lega waktu itu," kata Moza. Ada nada panik yang mulai merambat naik di suaranya, berubah menjadi histeria kecil.</p><p class="ql-align-justify">"Iya, Kak. Saya juga bingung. Apa mungkin... anu..." Fitri menggantung kalimatnya, tidak berani melanjutkan karena takut menyinggung perasaan klien VIP-nya.</p><p class="ql-align-justify">"Anu apa, Mbak? Bilang aja."</p><p class="ql-align-justify">"Apa mungkin Kak Moza agak... <em>bloating</em>? Atau habis makan siang yang berat? Kadang garam atau MSG bikin retensi air, Kak. Jadi badannya agak bengkak dikit."</p><p class="ql-align-justify">Moza langsung menggeleng cepat, matanya membelalak menyangkal. "Nggak mungkin. Mbak kan tahu, seminggu ini saya kayak orang gila dietnya. Saya cuma makan apel sama putih telur rebus. Nasi udah nggak masuk mulut saya sebulan. Saya minum air putih aja ditakar supaya nggak kembung. Nggak mungkin saya gendutan dalam seminggu."</p><p class="ql-align-justify">Rasa lapar yang dia tahan selama berhari-hari mendadak terasa perih di lambung, bercampur dengan rasa frustrasi. Dia sudah melakukan segalanya. <em>Segalanya</em>.</p><p class="ql-align-justify">Fitri menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak bingung mencari solusi. "Coba saya panggil Bu Ratna ya, Kak. Siapa tahu beliau punya trik jahit dadakan atau bisa diakali pakai peniti besar dulu buat sementara. Soalnya ini kainnya agak kaku dan rapuh, takut kalau saya paksa sendiri nanti malah rusak."</p><p class="ql-align-justify">"Jangan!" cegah Moza cepat, suaranya naik satu oktaf. Dia menoleh ke belakang dengan panik. "Jangan panggil Bu Ratna dulu. Rian sebentar lagi sampai. Kalau dia tahu gaunnya belum pas dan harus dirombak lagi, dia bisa marah besar."</p><p class="ql-align-justify">Fitri menatap Moza dengan tatapan kasihan. Dia tahu reputasi tunangan Moza yang perfeksionis dan temperamental itu. Beberapa kali Fitri melihat Rian mengkritik pilihan warna atau model baju Moza dengan kata-kata pedas.</p><p class="ql-align-justify">"Tapi Kak, Mas Rian kan harus lihat hasil akhirnya hari ini. Ini <em>final fitting</em>. Kalau resletingnya nggak naik, gimana mau dilihat? Mas Rian pasti sadar kalau punggungnya bolong."</p><p class="ql-align-justify">Moza menggigit bibir bawahnya sampai terasa perih. Dia melirik jam dinding butik yang berdetak konstan, seolah menghitung mundur sisa waktu hidupnya. Jam dua siang lewat sepuluh menit. Rian janji datang jam satu. Terlambat satu jam itu biasa buat Rian yang sibuk, tapi artinya <em>mood</em> pria itu pasti sedang tidak bagus karena macet atau urusan kantor.</p><p class="ql-align-justify">"Kita coba sekali lagi, Mbak Fitri. Tolong banget ya. Saya janji bakal tahan napas lebih kuat lagi. Saya bakal sedot perut saya sampai nempel ke punggung. Tarik aja yang kenceng. Nggak apa-apa sakit dikit, kulit saya kejepit juga nggak apa-apa."</p><p class="ql-align-justify">"Kak, tapi kalau kulitnya kejepit nanti luka, berdarah..."</p><p class="ql-align-justify">"Nggak apa-apa! Luka bisa ditutup bedak. Kalau gaun nggak muat, itu bencana. Tolong banget, Mbak. Ini <em>fitting</em> terakhir. Minggu depan saya nikah. Saya nggak mau ngecewain Rian." Suara Moza pecah di akhir kalimat.</p><p class="ql-align-justify">Fitri mengangguk pasrah, tidak tega melihat kliennya memohon seperti itu. "Oke, Kak. Kita coba ya. Bismillah. Kak Moza pegangan ke tembok ya biar ada tenaga."</p><p class="ql-align-justify">Moza kembali menegakkan tubuhnya, menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding dingin di depannya. Dia memejamkan mata, membayangkan dirinya menyusut, membayangkan lemak-lemak di tubuhnya menghilang secara ajaib. Dia menghirup napas dalam-dalam. Menahannya di dada sampai kepalanya pening.</p><p class="ql-align-justify"><em>Sreeet...</em></p><p class="ql-align-justify">Resleting itu bergerak naik satu sentimeter. Bunyi gesekan logam terdengar menyakitkan.</p><p class="ql-align-justify">"Nah! Gerak dikit, Kak! Tahan, tahan!" seru Fitri semangat, keringat menetes di dahinya.</p><p class="ql-align-justify">"Terus, Mbak! Terus!" kata Moza tanpa membuka mulut, wajahnya sudah merah padam menahan napas.</p><p class="ql-align-justify"><em>Sreeet...</em></p><p class="ql-align-justify">Satu sentimeter lagi. Tapi kemudian berhenti mendadak. Seperti menabrak tembok beton. Terkunci mati di bagian pinggang yang paling lebar, di mana lekukan tubuh Moza bertemu dengan batas toleransi kain.</p><p class="ql-align-justify">"Aduh, Kak. Mentok lagi. Ini bener-bener keras."</p><p class="ql-align-justify">Tepat saat itu, pintu kaca depan butik terbuka. Lonceng kecil di atas pintu bergemerincing nyaring, memecah kesunyian tegang di ruang ganti.</p><p class="ql-align-justify"><em>Kring!</em></p><p class="ql-align-justify">Jantung Moza seakan berhenti berdetak. Bukan karena resleting, tapi karena suara langkah kaki yang sangat dia kenal. Langkah kaki yang tegas, cepat, dan tidak sabaran. Sepatu pantofel mahal yang beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema otoritas yang membuat nyali Moza menciut.</p><p class="ql-align-justify">"Siang, Mas Rian," sapa resepsionis di depan dengan nada ramah yang dibuat-buat, sedikit gugup. Semua staf di sini tahu tabiat Rian.</p><p class="ql-align-justify">Tidak ada jawaban ramah atau basa-basi. Hanya gumaman singkat dan dingin. "Moza mana?"</p><p class="ql-align-justify">"Di ruang ganti nomor satu, Mas. Sedang dibantu Fitri."</p><p class="ql-align-justify">Moza menatap Fitri lewat cermin. Wajah mereka sama-sama pucat pasi.</p><p class="ql-align-justify">"Mbak, cepetan," bisik Moza histeris, air mata mulai menggenang. "Tarik lagi. Saya mohon. Pokoknya harus nutup sebelum dia masuk tirai ini. Paksa aja, Mbak!"</p><p class="ql-align-justify">"Iya, Kak, iya!" Fitri ikut panik, jarinya licin karena keringat. Tangannya gemetar menarik resleting itu, mencoba segala sudut.</p><p class="ql-align-justify">Suara langkah kaki Rian makin dekat. Terdengar suara baritonnya sedang berbicara di telepon, nada suaranya terdengar kesal.</p><p class="ql-align-justify">"Iya, Ma. Udah aku bilang kateringnya aman. Mama nggak usah rewel deh, pusing aku... Iya, ini aku lagi di tempat baju. Nggak tahu nih si Moza, lelet banget. Janjian jam satu, sekarang belum keluar juga... Iya, nanti aku telepon lagi pas di mobil."</p><p class="ql-align-justify">Telepon dimatikan kasar. Lalu tanpa mengetuk atau bertanya "boleh masuk", tirai beludru tebal ruang ganti disibakkan dengan kasar.</p><p class="ql-align-justify"><em>Srak!</em></p><p class="ql-align-justify">Cahaya lampu butik yang terang langsung menyerbu masuk. Rian berdiri di sana. Kemeja kerja <em>slim fit</em>-nya yang rapi terlihat sedikit kusut di bagian lengan, wajahnya masam, dan satu tangannya memegang kunci mobil BMW-nya sambil mengetuk-ngetukkannya ke paha dengan ritme cepat. Dia menatap Moza dari atas ke bawah. Tatapannya bukan tatapan memuja calon pengantin pria yang melihat bidadarinya dalam balutan gaun impian. Tapi tatapan seorang investor yang sedang melihat aset yang nilainya turun. Tatapan mandor yang sedang memeriksa pekerjaan yang belum beres.</p><p class="ql-align-justify">Moza refleks menyilangkan tangan di depan dada, menutupi belahan dadanya, meski gaun itu sebenarnya sopan. Dia merasa telanjang dan kotor di bawah tatapan Rian.</p><p class="ql-align-justify">"Kok belum kelar?" tanya Rian. Nadanya datar, tapi tajam seperti silet. "Aku nungguin dari tadi di jalan macet, kirain sampe sini tinggal angkut."</p><p class="ql-align-justify">Moza mencoba tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan dan gemetar. "Hai, Sayang. Maaf ya, ini... lagi proses <em>finishing</em> dikit. Ada detail yang lagi dirapihin sama Mbak Fitri."</p><p class="ql-align-justify">Rian tidak menunggu dipersilakan. Dia melangkah masuk ke dalam <em>fitting room</em> yang sempit itu, membuat ruangan terasa semakin sesak. Wangi parfum <em>woody</em> mahalnya langsung memenuhi ruangan, mendominasi bau <em>laundry</em> butik dan keringat dingin Moza. Fitri reflek mundur selangkah ke pojok, memberi ruang bagi si tuan besar, kepalanya menunduk takut.</p><p class="ql-align-justify">"Finishing apanya? Itu punggung masih bolong begitu," kata Rian to the point, jari telunjuknya menunjuk punggung Moza yang terekspos karena resleting yang macet. "Kamu belum siap sama sekali."</p><p class="ql-align-justify">"Iya, Mas. Ini... anu... resletingnya agak seret, mungkin karena udara lembab," jawab Fitri pelan, mencoba membela Moza dengan alasan yang tidak masuk akal.</p><p class="ql-align-justify">Rian mendengus, suara tawa sinis keluar dari hidungnya. Dia memutar bola matanya. "Seret? Lembab? Kamu pikir ini pintu gudang? Gaun empat puluh juta resletingnya seret? Kalian jualan baju <em>couture</em> atau jualan karung goni di pasar?"</p><p class="ql-align-justify">"Bukan salah butiknya, Yan," potong Moza cepat, suaranya memohon. Dia tidak mau Fitri dimarahi dan memperpanjang masalah. "Ini... kayaknya <em>lining</em> dalemnya nyangkut dikit. Biasa kok, kain baru."</p><p class="ql-align-justify">"Nyangkut atau nggak muat?" tembak Rian langsung, matanya menatap tajam ke mata Moza di cermin.</p><p class="ql-align-justify">Moza terdiam. Tenggorokannya tercekat. Kebohongan kecilnya hancur seketika.</p><p class="ql-align-justify">Rian mendekat perlahan, seperti predator mengitari mangsa. Dia berdiri tepat di belakang Moza, menatap pantulan wajah Moza di cermin. Moza bisa melihat wajah Rian di samping wajahnya sendiri. Kontras sekali. Rian yang tampan, terawat, dan penuh kendali. Dan Moza yang berantakan, <em>makeup</em>-nya mulai luntur karena minyak wajah, dengan rambut sedikit keluar dari sanggul dan ekspresi ketakutan.</p>
Selanjutnya
Pengaturan Membaca
Ukuran Teks
Jenis Font
Warna Latar
Daftar Bab
1
BAB 1: GAUN YANG TIDAK PAS
2
Bab 2
3
Bab 3
4
BAB 4: KALIMAT YANG MEMBUNUH
Komentar
Memuat komentar...
Silakan Login untuk komentar.
Sawer Penulis
Dukung @aksaria dengan Koin Ira.