Ketika Cinta Mengadu

Bab 5

"Mas, kamu ditelepon lama banget angkatnya sih?! Di mana kamu sekarang? Kenapa belum pulang?! Kamu mau terus-terusan membohongiku?!"

Suasana ruang tengah rumah mewah itu hening, hanya terdengar detak jarum jam dinding antik dan gemercik air dari kolam ikan di halaman belakang. Rarasuma duduk di ujung sofa beludru, jemarinya gemetar meremas selembar kertas berstempel yang baru saja ia temukan tersembunyi di dasar koper suaminya. Di luar jendela kaca raksasa, langit malam tampak kelabu, tertutup selapis awan mendung yang membuat segala sesuatunya terasa suram. Sama seperti perasaannya malam ini. Hancur dan dingin.

Tiba-tiba, getaran keras dari ponselnya memecah kesunyian. Ia melirik layar. Nama "Mas Pramudya" berkedip-kedip di sana. Jantung Rarasuma berdegup kencang, bukan karena rindu atau kaget, melainkan karena rasa sakit yang menyayat dada. Fakta yang baru saja ia temukan terlalu mengerikan untuk ditelan akal sehat.

Rarasuma memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang terasa mengiris tenggorokannya. Ia menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinga yang mendadak berdenging.

"Halo, Ra? Maaf sayang, Mas baru bisa angkat. Tadi ada rapat dadakan dengan klien," suara bariton Pramudya terdengar begitu tenang, lembut, dan meyakinkan. Khas seorang pria yang pandai merangkai ilusi.

Rarasuma bangkit berdiri, dadanya naik turun menahan isak. Ia setengah berlari menuju kamar mandi, satu-satunya tempat di rumah raksasa ini di mana ia bisa melepas topeng "Istri Bahagia" barang sejenak. Ia mengunci pintu, bersandar di dinding ubin yang dingin, dan merosot perlahan ke lantai. Di cermin wastafel tadi, ia melihat bayangannya sendiri—rambut tertata rapi, pakaian elegan, wajah ayu. Sempurna. Tapi di balik itu, jiwanya menjerit luka.

"Rapat, Mas? Atau kamu sedang di rumah perempuan itu?" suara Rarasuma terdengar serak, canggung, namun sarat akan keputusasaan.

Hening sejenak di ujung sana.

"Perempuan siapa? Kamu bicara apa sih, Ra? Mas di kantor, sedang sibuk," jawab Pramudya, nada suaranya sedikit berubah, mencoba berkelit.

"Jangan bohong lagi, Mas!" Suara Rarasuma akhirnya pecah, air matanya tumpah membasahi pipi. "Aku menemukan berkasnya. Surat cerai yang kamu tunjukkan padaku sebelum kita menikah... itu palsu, kan?! Kamu belum pernah menceraikan Miranti!"

"Tarik napas, Rara. Tenang dulu," desah Pramudya. Tidak ada nada khawatir yang tulus, hanya kekesalan karena rahasianya terbongkar. "Dengarkan Mas. Miranti sedang sakit. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja, keluarganya bisa menghancurkan reputasiku. Lagipula, kamu kan yang sekarang tinggal bersamaku. Kamu istriku. Kenapa kamu harus meributkan selembar kertas?"

"Selembar kertas?!" Dada Rarasuma terasa sesak. Kebohongan demi kebohongan ini menyapu sisa-sisa kewarasannya. "Itu bukan sekadar kertas, Mas! Itu bukti bahwa aku ini... aku ini cuma korban penipuanmu! Perempuan yang kamu tipu dan kamu jadikan istri palsu demi menutupi pernikahanmu yang masih sah dengan Miranti!"

"Jaga bicaramu, Rarasuma!" Nada Pramudya kini meninggi, dingin dan tajam. "Kamu pikir posisiku mudah? Terjepit di antara kalian berdua? Miranti adalah istri sahku, aku tidak bisa menceraikannya sekarang. Tolong, mengertilah sedikit. Jangan kekanak-kanakan."

Rarasuma tertawa getir, tawa yang diiringi air mata deras. "Jadi aku yang harus mengerti? Kamu membiarkan Miranti tetap menjadi nyonya sahmu, sementara aku harus hidup dalam bayang-bayangnya selamanya sebagai pengkhianat tanpa sadar?!"

Belum sempat Pramudya membalas, terdengar suara sayup-sayup seorang wanita dari seberang telepon. Suara yang sangat Rarasuma kenali dari foto-foto lama suaminya.

"Mas Pram... teh hangatnya sudah siap. Siapa yang telepon malam-malam begini, Mas?"

Rarasuma membeku. Itu suara Miranti. Jelas. Nyata. Suaminya tidak sedang lembur di kantor, suaminya sedang berada di pelukan istri sahnya. Ponsel di genggaman Rarasuma terasa seolah terbakar. Ia menutup telepon itu dengan tangan bergetar hebat. Di sudut kamar mandi yang dingin, ia menangis sejadi-jadinya, meratapi kenyataan bahwa pernikahan yang ia agungkan hanyalah sebuah kebohongan kelam yang menghancurkan hidupnya.


Sebelumnya Selanjutnya
Pengaturan Membaca
Ukuran Teks
Jenis Font
Warna Latar
Daftar Bab
1
Bab 1
500 Koin
2
Bab 2
500 Koin
3
Bab 3
500 Koin
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
Komentar
Memuat komentar...
Silakan Login untuk komentar.
Sawer Penulis
Dukung @user1 dengan Koin Ira.
Sticky Banner
Sponsor
Ketika Cinta Mengadu
Baca Cerita